Kamis, 20 Januari 2011

Pengertian Batik



PENGERTIAN BATIK

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "nitik” yang berarti titik. Kata batik sendiri merujuk pada teknik pembuatan corak menggunakan canting atau cap dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak "malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna.

Menurut konsensus Nasional 12 Maret 1996, Batik adalah karya seni rupa pada kain dengan pewarnaan rintang yang menggunakan lilin sebagai perintang warna (wax resist technique).

SEJARAH BATIK DI INDONESIA
Dari beberapa peninggalan sejarah seperti relief candi, pakaian para raja dan bangsawan pada zaman dulu yang ada di Indonesia, diperkirakan batik telah ada dan berkembang di Indonesia sekitar tahun 400 an Masehi. Awalnya batik hanya dibuat dan dipakai oleh raja-raja dan keluarganya di lingkungan kraton. Beberapa diantaranya dijadikan pakaian upacara yang penuh dengan kesakralan.

Dalam perjalanannya, secara perlahan batik dapat keluar dari lingkungan kraton dan mulai dibuat dan dikemabangkan oleh masyarakat sekitar kraton, secara terbatas sesuai dengan kebutuhannya. Lama kelamaan batk tidak hanya dibuat di sekitar keraton untuk kebutuhan sendiri, tetapi telah menyebar dan dijadikan komoditi dagang yang bermuara pada meningkatkan perekonomian keluarga hingga sekarang. Batik yang tadinya berpusat di Keraton seperti Yogyakarta dan Surakarta berkembang ke daerah lain seperti Pekalongan, Cirebon, Tasikmalaya, Demak, Kudus, Tegal, Wonogiri, Karanganyar, Indramayu, Madura, Ciamis, Garut, Banyumas, Lasem, Sidoarjo.


Faktor-faktor yang mempengaruhi ragam hias dan tata warna batik

Setiap daerah pembatikan mempunyai keunikan dan ciri khas masing-masing, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ragam hias dan tata warna batik adalah :

  1. Letak geografis
Penghasil batik dari daerah pesisir berlainan dengan batik pedalaman. Daerah pesisir banyak dipengaruhi dari luar karena pedagang-pedagang luar negeri seringkali singgah untuk berdagang. Daerah kraton banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan kepercayaan yang telah ada.

  1. Sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan
Masyarakat pesisir tiap hari yang dipandang hanya birunya laut atau hijaunya daun maka bosan dengan warna tersebut, da lebih tertarik dengan warna yang beranekaragam. Masyarakat pedalaman/kraton bosan dengan warna-warni. Di taman sudah banyak bunga beraneka ragam, warna-warna kontras dirasakan kasar (kurang mriyayeni/anggun).

  1. Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah yang bersangkutan
Di sini tampak bila pengaruh Hindu Jawa yang kuat maka ragam hias motifnya banyak digambarkan dengan lambang-lambang simbolis. Misalnya : semen, lar, dll. Bila pengaruh agama islam yang kuat maka ragam hiasnya tulisan Arab / kaligrafi.

  1. Keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna
Di daerah pesisir ragam hiasnya banyak menggambarkan : ikan, air, udang dan tumbuh-tumbuhan secara naturalis. Di daerah kraton ragam hiasnya banyak menggambarkan : gunung, kupu-kupu, burung, tumbuh-tumbuhan secara simbolis.

  1. Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembatikan
Dengan adanya kontak atau hubungan daerah pembatikan menimbulkan ragam hias baru (saling mempengaruhi).
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    
ALAT-ALAT BATIK
  1. Canting Tulis
Canting tulis dibuat dari plat tembaga, bentuk seperti kepala burung, dan bekerjanya alat ini berprinsip pada “bejana” berhubungan.”
Canting untuk membatik secara tulis tangan ini terdiri dari badan, berbentuk seperti cerek, cucuk berupa saluran dan tangkai dari bambu atau glagah.
Fungsi : alat untuk menorehkan malam pada proses batik tulis
Jenis-jenis Canting :
-          Canting cecekan, untuk membuat titik.
-          Canting tembokan, untuk membatik bidang yang luas.
-          Canting ceretan, untuk membatik garis yang sejajar (punya beberapa lubang di ujung leher).
-          Canting Ploporan, untuk membatik.

  1. Gawangan (Jagrag)
Gawangan terbuat dari bambu atau kayu yang fungsinya untuk meletakan (sampiran) mori/kain yang akan batik.

  1. Wajan
Wajan terbuat dari besi baja cor yang digunakan untuk tempat melelehkan malam pada proses batik tulis.

  1. Anglo & Kipas  atau Kompor
Anglo terbuat dari tanah liat yang dibakar yang berfungsi untuk memanaskan wajan yang berisi malam. Untuk membuat bara api tetap menyala diberi kipas. Proses batik sekarang lebih sering memakai kompor karena hemat tenaga dan lebih praktis.

  1. Dingklik
Dingklik terbuat dari kayu atau bambu ataupun dari plastic, digunakan untuk tempat duduk pembatik. Tempat duduk pembatik tidak harus dengan dingklik tapi juga bisa duduk di kursi biasa.

  1. Canting Cap
Alat cap atau disebut pula canting cap, adalah berbentuk “stempel” yang dibuat dari plat tembaga.

  1. Ender
Fungsi ender sama dengan wajan. Ender terbuat dari tembaga yang fungsi untuk melelehkan malam pada proses batik cap.

  1. Meja Cap
Meja cap digunakan sebagai alas kain pada saat proses pengecapan.

  1. Klerekan, glogor
Digunakan untuk pewarnaan proses celup. Klerekan berpasangan dengan glogor yang fungsinya untuk menahan kain pada saat diklerek. Glogor terbuat dari kayu dan berat, klerekan terbuat dari kayu.

  1. Kenjeng / Jedi
Kenjeng / jedi terbuat dari tembaga yang berbentuk seperti tabung didigunakan untuk merebus air pada proses menghilangkan malam (nglorod)


MALAM / LILIN BATIK

Lilin batik sebagai perintang warna dalam proses pembatikan merupakan campuran dari beberapa macam komponen lilin seperti :

1.     Gondorukem
2.     Damar /Mata Kucing
3.     Parafin
4.     Microwax
5.     Lilin Tawon
6.     Lemak Binatang /Kendal
7.     Minyak Kelapa
8.     Malam sisa proses

Komposisi pemakain bahan di atas untuk membuat malam disesuaikan dengan tujuan penggunaan malam. Misalnya : malam untuk sutera harus mempunyai titik leleh lebih rendah dari malam katun.


Macam-macam malam :
1.     Malam Tulis
2.     Malam Cap
3.     Malam Popok / Malam Tembokan

Syarat lilin batik yang baik :
1.     Mudah untuk dilekatkan dan mudah untuk dilepas kembali
2.     Tolak terhadap air
3.     Tidak meninggalkan noda terhadap kain


ZAT WARNA

Pewarna yang digunakan dalam proses batik digolongkan menjadi 2 yaitu :
1.     Pewarna Alam : diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, karena setiap bagian dari tumbuhan memiliki pigmen alami.  Contoh pewarna alam : kayu tegeran, akar mengkudu, daun mangga, kulit buah manggis, kulit kayu tingi, dll.
2.     Pewarna Sintetis : dari bahan kimia, seperti : indigosol, naptol, procion, rapit.


TEKNIK MEMBUAT BATIK
Teknik membuat batik meliputi 3 macam pekerjaan utama, yaitu:  
1.    Pelekatan lilin batik pada kain untuk membuat motif batik yang dikehendaki. Pelekatan lilin batik ini ada beberapa cara, dengan ditulis dengan canting tulis, dengan dicapkan dengan canting cap atau dilukiskan dengan kuas atau jegul.
Fungsi dari lilin batik ini ialah untuk resist (menolak) terhadap warna yang diberikan pada kain pada pengerjaan berikutnya.

Batik Tulis :
Pembuatan batik tulis perekatan malamnya dilakukan dengan canting tulis. Untuk memperlancar keluarnya malam maka cucuk canting perlu dihembus. Prinsip penulisan dengan canting pada kain dalam membuat motif adalah dari bawah ke atas dengan posisi cucuk condong ke atas.
Dalam pembuatan batik tulis biasanya kain yang akan dibatik disungging / digambar terlebih dahulu. Nyungging adalah membuat gambar untuk pembuatan batik tulis. Pada awalnya desain gambar batik digambar di kertas kemudian dipindahkan / dijaplak ke kain.

Batik Cap :
Pembuatan batik cap pelekatan malamnya menggunakan canting cap, yang dimaksudkan untuk mendapatkan pola dasar sesuai dengan motif yang terdapat pada cap. Menggunakan canting cap pada prinsipnya seperti menggunakan stempel.

2.    Pewarnaan batik, pekerjaan pewarnaan ini dapat berupa mencelup, dapat secara   coletan atau lukisan (painting). Pewarnaan dilakukan secara dingin (tanpa pemanasan) dan zat warna yang dipakai tidak hilang warnanya pada saat pengerjaan menghilangkan lilin atau tahan terhadap tutupan lilin.

3.     Menghilanglan lilin, yaitu menghilangkan lilin batik yang telah melakat pada permukaan kain.  Penghilangan lilin batik dilakukan dengan metode pemanasan pada air mendidih.


0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda